image1 image2 image3

HELLO I'M RARAA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|LET THE WORDS BRING YOUR MEMORIES|'KEEP READING!

Senja Muram

Kunamakan ia hantu, sebab tak kuingat jelas sosoknya, yang tersisa hanya rasa, secuil rasa itu yang ingin kumuseumkan saja.
--
Satu titik kala senja bermurahsenyum menawarkan lembayung bercampur jingga di ufuk barat langit-Nya, hantu itu hadir lewat berbaris morfem yang telah kususun sejak pagi tadi. Ia menyelinap tanpa permisi, entah lewat mana. Lamat-lamat mulai kurasakan hangat menyusupi ruang kecil di sebelah kiri yang kutahu itu hati. Ia pun hidup disana, mengisinya dengan warna-warni yang tak kukenali sebelumnya. Awalnya kukira ia kawan lama, tatapnya yang menghunjam tepat di mataku menimbulkan sensasi akrab, seperti aku telah hidup bertahun-tahun dengan rasa itu. Saat sepi mengungkung dalam dimensi tal berbatas, ia malah memilih menemaniku, merelakan dirinya termakan sunyi hanya demi setia bersamaku, meski kutahu ia gentar pada rasa takutnya sendiri. Samar-samar kulihat ia menyihir waktu, menggulingkannya begitu cepat hingga senja terasa lebih singkat saat dia disini. "Jadilah milikku", pintaku. Sesamar waktu yang ia sihir, sesamar itu pula gelengannya. Kebebasan, satu-satunya hal yang diinginkannya dariku, dan satu-satunya hal yang tak pernah kumengerti.
--
Di titik lain, senja enggan tersenyum lagi seperti kemarin, ia terlihat muram, jingga menyala raib entah kemana. Dan, dimulailah bencana itu. Kehangatan yang biasanya menyelimuti hatiku kini mulai mendingin. Awalnya kukira senja mencurinya dariku, namun hangat itu tak pernah kembali meski senja muram berkali-kali muncul dan lenyap. Hantu itu rupanya yang mencopotnya dariku. Sekonyong-konyong tatap matanya berubah asing, bukan lagi kawan lama seperti yang selalu kudapati kemarin. Kusaksikan dengan penuh kesadaran ia memberangus setiap inci kebahagiaan dariku, dari dunia, bahkan ia pula pencuri senyum senja! Ia adalah gelap yang mengunciku setiap malam, dan ia berpura-pura menjagaku hanya demi melihat ketakutanku dari dekat. "Apa salahku?!", aku meronta namun wakti seakan disihirnya, tak ada apa-apa yang bergerak disini selalu aku dan hantu ini. Lambat laun, ia mulai menertawai kebodohanku mempertanyakan betapa tololnya aku telah mempercayainya. Ya, ini memang salahku dan ia hanyalah sesosok genius yang sanggup membuaiku dalam mimpi. Dan kini, aku bangun terlambat.
--
Muak. Berkali-kali kutertidur dan kembali terbangun dalam ilusi yang sama tentang sesosok hantu gelap.
Setiap detik aku terjaga, fragmen itu terus memberondong kesadaranku hingga tak ada lagi yang kuingat selain fragmen itu.
Waktupun dengan senang hati memelarkan diri, bermain-main dengan batas kemampuanku menahan rasa sakit.
Fragmen itu pembunuh berdarah dingin, dan waktu adalah senjata ampuh membuatku sekarat dalam ketidakpastian.
Senja masih saja muram, hujan mulai berlarian di luar sana.--

Source: nonalya.blogspot.com

"Remember who the real enemy is", Haymitch in Catching Fire The Movie (2013)

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment