| Desa Kahayya, 1400 mdpl (andiarifayani.com) |
"Berawal dari biji-biji hijau yang hidup di desa tertinggi Bulukumba sejak masa penjajahan, menjelma secangkir kopi hitam di meja konferensi Bonn, Jerman, pada penghujung 2017."
---
Membincangkan progres Desa Kahayya, barangkali tak ada yang lebih terperanjat dibanding para penduduk asli. Sebelum brand Kopi Kahayya dan Tanjung Donggia meledak di kancah lokal bahkan internasional, mereka masih menikmati sepi. Salah satu kawan bahkan menuliskan, desa ini diklaim sebagai "tempat sapi buang kotoran" oleh orang-orang desa sekitar.
Ya, memang sapi saja yang bisa melenggang riang di atas jalan kala itu-selain manusia tentu saja. Kendaraan roda dua hanya melaju sampai ujung aspal, masih butuh 3-4 jam lagi berjalan kaki untuk sampai ke desa. Setapak masih berupa campuran bebatuan sungai dan tanah merah.
Perkara jalanan ini menyulitkan hampir segala lini kehidupan. Ibu-ibu rumah tangga lebih memilih menyeberangi sungai ke Sinjai, demi kelangsungan kepulan asap dapur. Desa Kahayya memang berbatasan langsung dengan Kecamatan Sinjai Borong. Anak-anak ke sekolah mesti menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Biji-biji kopi dijual murah ke penadah, kisaran 5000-7000 rupiah per kilo. Malam hari, masyarakat mendekam dalam gulita sebab kabel-kabel listrik PLN belum terentang. Mereka hidup damai. Tapi sendiri.
Pemerintah daerah Bulukumba hanya mengenal Kahayya dalam catatan administratif. Sebatas desa dari Kecamatan Kindang yang memuat tiga dusun; Gamaccayya, Kahayya, dan Tabbuakang dengan luas wilayah sekitar 1468 hektar, didiami oleh 133 Kepala Keluarga. Jarak antara Kota Bulukumba dan desa ini membentang sepanjang 35 km. Ditambah 150 km lagi untuk sampai ke ibukota provinsi.
| Jalan menuju Kahayya (andiarifayani.com) |
Namun, lagu lama telah usai. Kahayya kini hadir di perbincangan warung-warung kopi Makassar. Secangkir dibanderol 20-an ribu rupiah. Bungkus hitam merek "Kopi Kahayya" bersisian dengan cap kopi cita rasa dunia macam vietnam drip, cappucino, dan macchiato. Jika bukan pencinta minuman manis-manis pahit ini, anak muda akan bercerita tentang cantiknya pemandangan di atas sana.
| Kemasan kopi Kahayya yang dijual di pasaran (andiarifayani.com) |
Menempatkan kopi sebagai ikon desa Kahayya amatlah pas. Sesuai namanya, Kaha bermakna "kopi". Sedangkan, yya diartikan "itu". Terjemahan bebasnya kira-kira berbunyi "daerah kopi itu". Kaha diserap dari Bahasa Arab "kahwa", yang juga berarti kopi. Cocok disebut filosofi kaha-yya.
| Biji kopi Kahayya (andiarifayani.com) |
Proses panjang menerabas rintangan geografis ini tak semudah menuang bubuk kopi ke dalam gelas. Kerjasama antar pihak desa dan beberapa LSM, serta keterbukaan warga menerima perubahan menjadi katalisator lahirnya perbaikan. Indonesia Movement Project (IMP), Dompet Dhuafa, dan Sulawesi Community Foundation (SCF) adalah beberapa komunitas penggerak yang turut membukakan jalan menuju kebaruan.
Desember 2017 kemarin, SCF berkolaborasi dengan Program Peduli mengajak 20 bloger berkunjung ke Desa Kahayya. Field trip ini bagian dari Workshop Blogger Peduli, yang dihadirkan agar para penulis muda menuliskan gerak perubahan dan pembarahuan dari perspektif beragam.
| Rombongan Field Trip Blogger Peduli yang diadakan oleh SCF dan Program Peduli (andiarifayani.com) |
Nah, saya menemukan narasi inklusi dalam keseharian hidup orang-orang tanah kopi. Cerita-cerita betapa wisatawan mulai datang membanjiri Tanjung Donggia, juga perhelatan event besar macam Senandung Kopi Kahayya menjadi bentuk asimilasi Kahayya dengan dunia. Lebih dari itu, para warga pun menuai berkah.
Pak Ansar pernah mengikuti studi banding ke lokasi pemasok kopi terkenal seperti Toraja dan Lampung. Program yang diprakarsai oleh SCF ini meningkatkan kapasitas Kepala Dusun Kahayya itu dalam mengelola kebun kopinya. Beliau pun berbagi kiat bersama para petani kopi yang lain. Segala jenis urunan kerja diorganisasi lewat Badan Usaha Milik Desa.
| Tanjung Donggia, perbatasan Bulukumba-Sinjai Borong |
| Pak Ansar, Kepala Dusun Kahayya (andiarifayani.com) |
"dulu kita jual semua biji kopi, dicampur yang merah sama hijau. Tapi sekarang kan ditau mi, sudah ikut pelatihan. Ternyata biji warna merah saja yang diambil, dan itu lebih mahal. Bisa sampai 20 ribu per kilo. Nanti bulan-bulan lima baru panen lagi", ujarnya.
Ada pula Ibu Syiani, yang tinggal di dekat Donggia, Dusun Tabbuakang. Ibu dua anak kelahiran 1974 ini giat berkebun bersama suaminya, Tube. Mereka berdua tekun menanam kopi dan tembakau. Dengan ramah, beliau menunjukkan biji-biji kopi Robusta dan Arabika yang tersimpan di dalam karung.
![]() |
| Ibu Syiani bersama anaknya (photo credit: ilmi10.wordpress.com) |
Ibu Syiani dan ibu rumah tangga di Kahayya bukan hanya pandai menanak nasi. Mereka pun cekatan mengolah sumber daya alam yang banyak tersedia. Misalnya saja, olahan keripik buncis. Penganan ringan ini cocok dinikmati bersama teh daun kopi. Ah iya, warga juga kreatif mencelupkan daun kopi, lalu meramunya jadi teh hangat. Nikmat sekali disesap sambil duduk di tepi Donggia, menatap pegunungan Bawakaraeng dan Lompobattang. Kala hujan mendera. Atau ketika kabut mengepung udara. Maklum, udara di sini bikin menggigil.
| Keripik Buncis olahan warga setempat (andiarifayani.com) |
Bukan hanya orang dewasa, anak-anak kecil pun turut merayakan geliat perkembangan desanya. Tiap sore sepulang sekolah, para bocah kecil bercengkrama di Taman Baca Kahayya, membaca buku cerita, menyelesaikan PR, atau sekadar main. Perpustakaan kayu ini didirikan oleh IMP di tahun 2014 silam, Beberapa bulan sekali, kakak-kakak dari kota datang belajar bersama adik-adik nan lucu dalam program rutin Kelas Minggu Ceria. Dua tahun lalu, tepatnya Desember 2015, kawan-kawan Blogger Kampus juga ikut memeriahkan KMC.
| Segelintir bocah-bocah Kahayya sedang bersenda gurau; Didu, Aan, Alfa, dkk. (andiarifayani.com) |
Berseberangan dengan taman baca, sedang dibangun rumah tahfidz, untuk anak-anak juga. Tampak papan bertuliskan Asmaul Husna, ayat-ayat Al-Qur'an, dan angka Arab yang belum terpasang.
"Pak polisi yang bikin ini. Nanti mauki na ajar mengaji,", kata salah seorang bocah laki-laki.
| Pondok Tahfidz yang sedang dibangun oleh beberapa polisi (andiarifayani.com) |
Tokoh inisiator lokal yang patut menerima apresiasi tertinggi bernama Pak Marsan. Lewat pemikiran visioner, beliau menggagas ide Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di tahun 2013. Informasi dan data-data pendukung dicarinya melalui internet. Biaya 70 juta rupiah ditanggung bersama oleh seluruh warga dengan pengeluaran 1,2 juta per KK. Sejak saat itu, malam-malam di Kahayya lebih meriah, kendati masih mengandalkan arus sungai yang tak menentu.
| Pak Marsan, tokoh inisiator lokal (andiarifayani.com) |
Semenjak nama Kahayya jadi trending topic di linimasa dan perubahan di lingkungan sosial mulai signifikan, Pemda tak lagi memandang sebelah mata. Janji-janji manis tercium dari pelbagai rencana di atas kertas. Sebutlah, "program wisata terintegrasi" yang berupaya menyatukan antara wisata pantai Bulukumba-yang notabene telah dikenal publik- dengan wisata pegunungan-daerah Kahayya pastinya-. Pemda juga berujar akan memaksimalkan sektor perekonomian lewat promosi kopi. Perbaikan jalan, yang disinggung oleh pihak SCF saat pertemuan bersama Pemda di salah satu hotel kota Bulukumba, juga akan ditindaklanjuti.
---
Cerita inklusivitas di tanah kopi itu amatlah panjang. Dan, terus akan melampaui hari ini. Label "Masyarakat Adat dan Lokal Terpencil yang Bergantung pada Sumber Daya Alam" bukan hambatan menuju kesetaraan. Siapa tau, nanti kita bisa menyesap kopi Kahayya di kedai-kedai Tokyo, New York, atau Praha.
![]() |
| Suguhan kopi Kahayya (A. Sultan Arief Munandar S.) |



Great!
ReplyDelete