
photo credit by: andorblogs.com
Selain
pigura hitam putih yang bermukim di lemari pakaian dan sedikit lembar sarung di
dalam peti baju, tidak ada kenang-kenangan dari sosok Opu, ibunda Ayah. Gaun
pesta, perhiasan, dan barang-barang antik miliknya dihibahkan bagi handai
taulan, setelah beliau pergi tujuh tahun silam. Belasan tahun menetap dan tidur
di kamar yang sama, Opu sama sekali tidak menuliskan warisan apapun untukku, cucu pertamanya .
Sebelum kepergiannya, beliau hanya menitip pesan.
Jaga rumah baik-baik. Jadilah rumah adalah benda fisik tunggal yang saban
tengah malam menjadi tempat pulang.
Sayangnya,
ada kepemilikan lain yang Opu lupa awasi. Bahkan kerabat luput menyortirnya.
Padahal, benda ini lekat di hidup beliau ketimbang sarung batik kesayangannya
semenjak penglihatannya mulai merabun. Kacamata berlensa milik Opu, yang
kutemukan tersembunyi
dalam kotak hitam di bufet televisi.
Sebulan
berlalu sejak malam takziyah berakhir dan keluarga satu demi satu kembali ke
pusaran dunia masing-masing, mencoba lupa pada kematian barusan. Sesekali
mereka berkunjung ke ruang tamu membawa kata penghibur juga rasa sedih yang
berangsur-angsur pudar. Lebih sering kutontoni barang diangkut sampai lemari Opu
nyaris melompong. Hari itu rumah nihil kunjungan.
Lelah
bergelung di tempat tidur dengan bantal basah dan bau obat-obat Opu yang belum
sempat beliau habiskan, aku memilih bangun membenahi kamar, sekalian menata
ulang dekorasi rumah, hitung-hitung melaksanakan amanah Opu. Di bufet televisi
yang tersudut di kamar, benda-benda kecil teronggok berdebu. Termasuk kacamata Opu.
Alam
bawah sadar seketika terdistraksi ke masa lalu dimana ada imaji Opu awal
memakai kacamata berlensa, menyamarkan kaca-kaca di matanya. Tempo hari Opu
datang ke rumah lengkap dengan kotak kecil persegi panjang berbentuk nyaris
oval di tangannya. Setelah sore itu, baru aku sadar usia mulai memakan
masa-masa muda Opu, kejelasan penglihatan mata ada di dalamnya.
Opu
kerap kali berkacamata di hampir semua aktivitas, mulai dari menjaga warung
yang ramai anak kecil membeli sebungkus permen, tadarrus selepas subuh hingga
menjelang dhuha, sampai memarahi cucu-cucunya yang bandel bermain terlalu jauh
dari jangkauan. Kadang kala siluet Opu dengan kacamata terlihat menambal daster
hijau batik di depan jendela, saat petang terjaga. Sebelum berangkat ke
pembaringan, kacamatanya terlebih dahulu beliau sampirkan di samping televisi
Panasonic 14 inch agar mudah ditemukan kembali di sepertiga malamnya. Sesekali
beliau ke pasar bersarung batik sambil menenteng keranjang belanjaan plastik di
tangan kiri dan tangan mungil cucunya di genggaman tangan kanan.
Mata
Opu mengandung sendu bercampur rahasia, namun tiap menatap ke dalamnya, ada
ketulusan yang dipancarkan begitu banyak. Meski lensa kacamatanya tebal,
kebaikan yang menghuni matanya tetap sama.
Kendati
kejernihan terus ada, tapi kesehatan matanya mulai takluk pada senja. Kacamata
adalah penyerahan diri Opu secara simbolis kepada waktu sekaligus lambang
perlawanan pada apa-apa yang membatasinya bergerak dinamis seperti hari-hari
lalu. Nyaris bersamaan dengan kehadiran kacamata di hidupnya, penyakit-penyakit
juga mulai menyambangi tubuh Opu.
Tapi
Opu memang perempuan kuat. Seperti kacamata pada rabunnya, beliau berikhtiar
penuh mengendalikan kekuatan-kekuatannya yang tersisa pada dirinya dengan resep
dokter hingga pengobatan alternatif. Sampai di akhir usaha, beliau tetap
menyimpan kacamatanya di samping televisi Panasonic 14 inch, sampai tidak ada
lagi sepertiga malam yang bisa beliau dapatkan. Mata beliau telah tertutup,
walau kacamata berlensa tetap tersimpan rapi dalam kotak hitam persegi panjang
berbentuk lonjong.
Lewat
tujuh tahun, kacamata milik Opu masih di kotak yang sama. Tersimpan rapi di
antara tumpukan pakaian lama. Sesekali jika sedang betah di rumah, aku membongkar barang-barang lama hanya sekadar untuk menghidupkan kenangan. Terutama kacamata Opu, membutuhkan kain khusus mengelap lensanya. Dengan cara ini, selalu timbul ingatan tentang mata yang dulu ada di balik kaca berdebu itu.

Sama seperti Opa nya Rara, saya juga berkacamata.
ReplyDeleteDan saya jadi baper ingat kacamata yang hilang 😢
ReplyDeletehiks,,,
ReplyDelete