image1 image2 image3

HELLO I'M RARAA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|LET THE WORDS BRING YOUR MEMORIES|'KEEP READING!

NBS: Belajar Mengajar Menulis, Memahami Menjadi Anak

Dok. Panitia Nulis Bareng Sobat Batch V
Gelak tawa tertahan dan cekikikan kecil menggema di sisi-sisi ruang bercat kuning gading itu, sesekali disela deru mesin pendingin. Di tengah-tengah ruangan, berkererumun beberapa orang yang sedang membentuk diri ke dalam lingkaran, serupa warga Indian mengitari api unggun. Merekapun khusyuk melafalkan kombinasi angka, kadang juga kode seperti sandi ditambahkan ritme nada tertentu, hampir-hampir mirip mantra.

“lima, lima… dua, dua…” satu orang berseru.
“dua, dua… tujuh, tujuh…” orang lain menyahut.
“tujuh, tujuh… prese, prese…” 

begitu seterusnya, hingga tercipta cibiran yang akhirnya menimbulkan tawa riang di antara mereka apabila satu di antaranya salah melafalkan “mantra”.

----
Selain diisi manusia-manusia berbahagia itu, dan juga mesin pendingin tentu saja, ada pula kursi-kursi yang bersandar di dinding. Spanduk seukuran kira-kira 2 x 1 meter tertampang di sisi kanan dinding sebelah pintu. Tulisan Coaching Relawan Nulis Bareng Sobat Batch V, memenuhi spanduk itu.

Rupanya orang-orang di dalam lingkaran tadi sedang mengikuti program pelatihan yang diiniasi oleh Lembaga Mitra Ibu dan Anak, atau lebih dikenal luas dengan nama panggilan ‘Lemina’. Lemina, yang pernah disalahartikan sebagai nama manusia, menggagas gerakan menulis bagi anak-anak SD. Lahirlah Nulis Bareng Sobat, lima tahun silam.

Arus utama komunitas-komunitas, di Makassar khususnya, menyasar sekolah terpencil yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota. Sebagian besar lain, memilih fokus pada anak-anak jalanan yang tak lagi mencicipi nikmatnya bangku sekolah. Ada pula beberapa di antaranya bergelut di panti-panti asuhan, membagikan kasih sayang dan pengetahuan kepada anak yatim-piatu.

Anehnya, program NBS malah “lari” ke sekolah negeri. Masih di area kota, pula! Anak-anaknya masih dikategorikan punya akses belajar yang baik dan kemudahan dalam mendapatkan informasi. Pemilihan ini bukannya tanpa alasan. Kak Bunga Tongeng, salah seorang relawan di Lemina, menuturkan bahwa anak-anak di sekolah negeri juga punya hak  belajar dan diajar, sama dengan anak jalanan ataupun anak panti.
“Kalo kita semua berlomba-lomba ke panti, atau ngajar anak di jalan-jalan, lah yang ngajar mereka-mereka di sekolah negeri, siapa?”

Bagaimanapun, kebenaran terkandung di dalam pertanyaan retoris ini. Kita tahu sama tahu, seberapa rendah kualitas pendidikan di Indonesia. United Nations Development Programme (UNDP) mencatat tingkat pendidikan di Indonesia masih berada di nilai 14,6%, ditilik dari Indeks Pembangunan Manusia. Di sisi lain, jumlah sekolah dasar pada tahun 2016 mencapai 132.381 dengan jumlah siswa mencapai  3.652.276.

Lantas, apa kabar nasib 3 juta anak-anak sekolah negeri, jika hanya mengandalkan sistem pendidikan yang mutunya tak sampai 15% itu?

----

Coaching relawan ini hadir untuk menyiapkan bekal bagi relawan sebelum turun langsung ke sekolah. Selama pelatihan berlangsung, berbagai materi terkait Bahasa Indonesia disuguhkan lewat cara simulasi. Yap! Karena luaran dari Nulis Bareng Sobat berorientasi pada kemampuan siswa dalam menulis, maka materi yang diajarkan tentunya berkorelasi langsung dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Misalnya saja, di pertemuan awal, setelah sesi perkenalan, anak-anak akan mulai belajar kembali penggunaan huruf kapital. Alih-alih ceramah, relawan baru malah mencoba metode belajar yang tidak rigid dan mengondisikan situasi senyaman-nyamannya bagi anak-anak. Lewat simulasi cerita rakyat atau dongeng, relawan memperkenalkan ke anak-anak letak penggunaan huruf kapital di bagian-bagian dalam kalimat.

Anak-anak cenderung mudah bosan dan kehilangan fokus apabila materi pembelajaran terlalu padat dan bertele-tele, atau mulai sulit dipahami. Untuk itulah relawan juga belajar mengembangkan games dan ice breaking di sela-sela proses pembelajaran yang berlangsung selama 2 jam mata pelajaran.

Salah satu contoh permainan ringan itu dicontohkan pada saat coaching, seperti di awal tadi. Selain itu, tepuk tangan berkode juga efektif menenangkan suasana kelas yang gemuruh. Seorang relawan mencontohkan tepuk pelangi. Jika kode “merah”, bertepuk sekali. Kode “kuning” untuk dua tepuk, dan kode “merah” berarti tiga tepukan.

Coaching berjalan selama tanggal 26-27 Agustus 2017 di gedung ACT Sulsel , diisi dengan berbagai simulasi mengajar dan games-games menyenangkan. Di luar itu, relawan dipasangkan “alarm” di dalam diri untuk mempertahankan komitmen mengajar. Pasalnya, program Nulis Bareng Sobat di dua sekolah; SD Paccinang Makassar dan SD Inpres 4 Gowa, akan terus berlangsung selama 12 pekan dengan jadwal belajar yang tetap.

Merunut NBS tahun-tahun sebelumnya, cukup banyak relawan mundur teratur, sampai menyusut kurang dari 50% dari jumlah relawan awal. “Alarm” itu berupa tujuan awal relawan mendaftar di NBS. Seorang relawan mengungkapkan jika dirinya ingin mencoba pengalaman mengajar anak-anak, yang notabenenya sangat berbeda dibanding siswa SMA atau SMP yang selama ini digelutinya. Dengan terus mengingat tujuan awal, diri terpacu mencapai garis finish NBS yang ditandai dengan pameran hasil tulisan-tulisan peserta didik.

Bentuk tulisan anak-anak di pelatihan NBS cukup unik, sebab mereka memakai metode surat-menyurat. Sahabat Pena, dimana masing-masing siswa dari SD Paccinang  saling bertukar surat dengan siswa dari SD Inpres 4 Gowa, di setiap pertemuan. Saling bercerita tentang diri, cita-cita, keluarga, hingga sekolah. Kejutannya, di akhir mereka akan bertemu satu sama lain!

Kejutan-kejutan lain menanti kakak-kakak relawan di sekolah, bersama celotehan anak-anak dan suasana nostalgik sekolah dasar, yang melemparkan kita kembali ke masa-masa ketika menjadi siswa yang menunggu bel istirahat, takut-takut dimarahi guru, dan menggemakan tawa serta cekikikan khas di ruang-ruang kelas.

Setelah coaching selesai, kini waktunya relawan belajar mengajar menulis dan memahami menjadi anak.

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment