image1 image2 image3

HELLO I'M RARAA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|LET THE WORDS BRING YOUR MEMORIES|'KEEP READING!

Feodalisme dan Perempuan Kelas Dua




Senja kemarin pantai masih menemukan jejak Gadis bersisian dengan jejak-jejak penduduk desa lain. Empat belas tahun Gadis tumbuh seperti nyiur di tepi pantai. Menjulang. Tinggal menunggu berbuah. Tapi nampaknya hari itu awal mula segalanya berubah. Gadis musti bergegas, sebab kata Bapaknya, seseorang di kota ingin mempersuntingnya. Maka berangkatlah Gadis, dengan bau air laut dan tanda tanya perihal kota dan segala tetek bengeknya. Sepenuh hatinya gusar, pantai adalah bagian dari namanya. Alangkah gentar ia berpisah. Apa daya, kuasa sang Bapak ditambah ketakutan akan sosok "seseorang"-yang konon pejabat tinggi- lebih-lebih membuatnya gentar.
.
.
Pramoedya, di tiap tulisannya, tidak pernah tidak berkonflik dengan pemerintah (dari kalangan priyari sampai Gubernur Jendral). Di buku ini, Pram lagi-lagi membabat habis tatanan ajeg para priyayi Tanah Jawa. Gadis Pantai, setelah mati suri dan kabarnya ditemukan kembali oleh seseorang berkebangsaan Australia, adalah resume menyangkut feodalisme yang dipelihara beradab-abad di lingkaran kehidupan pejabat residen. Karakter Bendoro yang digambarkan sebagai sosok adikuasa namun agamis, penyayang sekaligus keji, dan punya banyak putra cilik begitu memanifestasikan gambaran seorang bangsawan Jawa. Dari sudut yang berlawanan (atau lebih tepat disebut sudut pandang Pram), muncul sosok Gadis Pantai. Kemunculan Gadis Pantai di dalam istana Bendoro lah yang menonjolkan dimensi feodal dari sisi perempuan. Bagaimana kedudukan perempuan di mata bangsawan-khususnya lelaki- yang hanya instrumen penunjang karir dan statusnya sebagai priyayi. Terlebih lagi, latar belakang Gadis Pantai yang notabene wanita dari desa pinggiran membuat kedudukannya lebih rendah lagi. Alur cerita dituturkan dengan apik tanpa terburu-buru menuju klimaks. Untuk menambah kesan feminin dalam tulisannya, Pram membubuhkan cerita tentang Kartini sang Pejuang Emansipasi Wanita. Sungguh kebetulan yang mencengangkan novel ini ditulis tepat pada saat Kartini berjaya. Karena Pram selalu menulis buku untuk mereka ulang sejarah bukannya memuaskan hasrat pembaca, dapat dipastikan akhir perjalanan Gadis Pantai tidaklah seindah bayangan Sang Bapak di awal mereka berangkat ke kota naik kereta kuda. Dipaksa berakhir, sebenarnya. Sebab usut punya usut, Gadis Pantai dituliskan ke dalam tiga bagian buku. Sayangnya si orang Australia itu hanya sempat menemukan satu di antaranya, sedang dua lainnya terkubur entah di pulau bagian mana.
.
.
Gadis Pantai adalah ungkapan sarkastik Pram terhadap budaya di tanah kelahirannya. Saya anggap ini bentuk kecintaan Pram terhadap Jawa, Indonesia, terlebih kebenaran. 
.
.
.
"Seganas-ganasnya laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi." (Gadis Pantai)

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment