Esok pagi, teman2 kita umat Kristiani akan merayakan Hari Raya yang mereka sebut Natal, perayaan terhadap hari lahir Yesus Kristus yang juga bertepatan dengan Hari Lahir Dewa Matahari (Amun Ra), dewa milik Masyakarat Pagan Mesir Kuno. Ucapan-ucapan selebrasi mulai menjadi main topic dalam berbagai media. Social media, advertisement, maupun mass media diramaikan dengan tema merah-hijau. Sinterklas, pohon-pohon cemara berhiaskan bintang, dan lonceng mendominasi sudut-sudut jalan raya. Tak ayal, Hari Natal seolah milik bersama, bukan lagi ceremonial keagamaan tertentu. Bahkan umat Islam turut terkena demam "Merry Christmas and Happy New Year", berhubung Hari Raya ini berdampingan dengan pergantian tahun.
Menyikapi fenomena ini, para pemuka agama yang dianggap sebagai tokoh sentral di Indonesia, angkat bicara. MUI, representasi dari perwakilan ulama Indonesia, terang-terangan menyatakan haram hukumnya ikut serta merayakan hari raya umat lain, dengan menyitir dalil "barang siapa yang menyerupai suatu umat, maka ia termasuk dalam umat itu". Hizbut Tahrir Indonesia, partai Islam yang memperjuangkan Khilafah Islamiyah, pun sejalan dengan MUI. Dalam pandangan mereka, bahkan mengucapkan selamat natal pun telah dianggap haram. Kontradiktif dengan pernyataan di atas, Ustadz Quraish Shihab, salah seorang pemuka agama yang mahsyur, menerangkan jika tidak ada keharaman ketika hanya sekadar mengucapkan, karena hal itu berarti kita menghargai hari raya mereka, asalkan jangan sampai mengikuti perayaannya. Sebab, masih menurut Quraish Shihab, bahkan para ulama di Mesir pun mengucapkan selamat bagi umat Kristiani.
Sebagai pemuda Muslim, tentulah perdebatan ini menuai kebingungan yang mendasar. Di satu sisi, tak enak hati rasanya bila tak ada ekspresi positif terhadap Hari Raya teman-teman Kristiani, anggapan bahwa umat Muslim sangat tidak toleran dikhawarirkan akan muncul. Namun di sisi lain, jangan sampai pemberian ucapan ini maka akan menggoyahkan iman kita, dan bukan tidak mungkin bila hal-hal kecil ini malah kebablasan. Naudzubillah Min Dzalik.
Semuanya dikembalikan pada diri masing-masing, inginkah kita berpartisipasi dalam perayaan mereka sebagai bentuk apresiasi, ataukah kita memilih bersikap netral, melewati hari natal tanpa selebrasi sedikitpun. Apapun itu, hendaknya setiap dari kita kembali mengkaji ilmu syar'i, kritis terhadap isu sensitif menyangkut keagamaan. Tidak lantas bersikap sekuler dengan berpikir bahwa Islam itu keras dan tidak toleran. Ingat firman Allah dalam surah Al-Quraish, "untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku".
CONVERSATION
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

0 comments:
Post a Comment