Gemetar aku mulai melirik sisa-sisa air di telapak tanganku
Ada bercak merah di sela-sela jemariku, sepertinya semalam aku ditumpahi sirup stroberi
Mataku serasa memberat, mungkin ada serangga yang menggigiti kelopaknya
Tapi, kenapa ujungnya basah? Ingatanku beralih ke pecahan kaca di sudut jendela
Ada sepucuk gambar hitam putih di dekatnya, tercabik-cabik. Mungkin ada
hewan liar yang mempretelinya saat aku terlelap, tapi kenapa ada pisau
kecil tergeletak miris di sampingnya?
Semalam kurasa aku bermimpi menatap seseorang dengan mata nanar di depan cermin
Ia menangis terisak, menghisap seluruh endorphin yang kupunya
Lalu pelan, sangat pelan, ia berpaling ke arahku, menghujamkan tatapan
yang takkan pernah kulupa. Tatapan yang menusukku setiap kali kucoba
berkaca bahkan di air keruh
Tanpa sadar, aku menjerit menahan sakit yang teramat perih.
Kesadaran menindasku, dan seketika aku tertumbuk memori-memori yang
seharusnya terlewatkan; Bercak darah, mata membengkak, foto hitam-putih
kusut di samping bingkai retak
Aku diserang de javu yang mematikan. Kali ini benar-benar seperti nyata!
Kurasakan sakit di pergelangan tanganku, goresan itu mulai menyeruak
kembali. Semalam aku mencoretnya dengan pisau kecil dan kubasuh darah
itu, membanjiri telapaknya
Pita suaraku serasa pecah, jeritan itu menggema di sekujur tubuhku, membuatku tuli
Kulempar pisau kecil itu, tepat mengenai pigura tempat senyummu
terbingkai. Hancurlah sketsa itu, bersamaan dengan runtuhnya mimpi yang
mati-matian kubangun lewat rasa sakit. Kini aku mati rasa.
Tapi sekarang sudah waktunya bangun, mentari kembali menggelitik hidupku
Kubersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar,
mengeringkan darah yang menggenang di sela-sela jari, dan mengusap
sisa-sisa air mata di pelupuk mata
Pagi ini, aku mesti hidup dan mulai menghidupkan rasa (lagi).
gambar:
weheartit.com
CONVERSATION
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

syukak
ReplyDelete