![]() |
| Nurjannah, 20 tahun |
Perempuan itu diam-diam
mengidap penyakit ginjal akut. Padahal usianya baru saja memasuki dekade ke-dua
di tahun 2017 ini, tepatnya 25 September silam dia merayakan penambahan umur. Perjalanan
jauh kadang kala menyusahkan kesehatannya begitu rupa, hingga memaksanya
mendekam berjam-jam di kamar sendirian. Ditambah postur tubuh 150 cm dengan
berat 40 kg, dia terlihat lebih aman berada di dalam rumah. Namun siapa sangka,
di balik kerapuhan Nurjannah ini, dialah sosok yang membangun sekolah pertama
dan satu-satunya di satu kampung bernama Bara.
--
Bara, salah satu dusun di
Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, bukanlah kampung
halaman Bu Jannah, sapan akrabnya. Aslinya dia menetap di Kampung Bonto Parang.
Untuk sampai ke Bara dari titik akhir di Desa Bonto Parang-2 jam perjalanan
motor dari Makassar- dibutuhkan minimal empat jam pendakian dan penurunan
menerabas hutan liar, dengan berjalan kaki. Pemukiman warga berjarak paling
tidak 100 meter hingga 1 km, menciptakan hamparan ruang hijau di kiri-kanan
jalan. Sajian pegunungan dan pepohonan pinus terlihat dari jauh, meski serasa
dekat. Sesekali terdengar kecipak air sungai dan suara-suara serangga hutan. Jika
berjalan di waktu malam hari, tentu akan tersesat sebab tak ada lampu jalan
disana. Matahari adalah satu-satunya bentuk penerangan. Nyaris setiap hari
Jannah melewati semua itu, seorang diri.
![]() |
| Dusun Bara, Desa Bonto Parang, Kecamatan Tompobulu, Maros |
Inisiatif Jannah mendirikan
bangunan pendidikan formal perdana di dusun Bara lahir atas keprihatinannya
terhadap anak-anak yang tak mengenal baca tulis, KPK dan FPB, apalagi peta
dunia. Puluhan tahun silam, hingga beratus kepala keluarga mendiami dusun, listrik mulai
menyala di rumah-rumah warga, tak ada kabar pemerintah akan menyiapkan sepetak tanah
untuk anak-anak belajar. Bergenerasi keluarga mendekam dirundung kegelapan
aksara. Sampai akhirnya, selepas tamat dari Madrasah Aliyah DDI Saekang di tahun
2013, Jannah mulai menggarap mimpi mulianya.
--
Alih-alih sibuk persiapan
masuk PTN favorit atau mengirim lamaran kerja ke meja-meja perusahaan, Jannah
malahan melangkahkan kaki ke Kantor Yayasan Darud Da’wah Wal Irsyad, bertemu
sang Kepala Yayasan, untuk berkonsolidasi. Tanpa izin yayasan naungan, muskil
baginya memacu pembangunan sekolah formal. Berharap pada birokrasi pemerintah
setempat untuk berkoordinasi dengan dinas pendidikan lebih tak terbayangkan
lagi. Proses rumit dan berbelit-belit. Diapun beriktikad mendirikan sekolah
berbasis madrasah islam. Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah langkah awalnya.
--
Mengantongi surat persetujuan
dari yayasan tak lantas membuat jalannya mulus. Dia masih tersuruk-suruk
mengurusi administrasi dan permohonan izin (lagi) dari Kepala Desa dan Kepala
Dusun. Menyambangi rumah satu per satu demi bertukar pikiran bersama warga
sembari menghitung jumlah anak usia sekolah di masing-masing rumah, dia jalani
sepenuh hati. Lelahnya tak digubris. Bak gayung bersambut, gagasannya disambut
ledakan persetujuan dimana-mana. Meski demikian, masih saja ada kendala lain
yang mesti Jannah taktisi secepat mungkin.
--
Jannah bukanlah filantropi.
Pembangunan sekolah membutuhkan dana. Dua premis ini coba dipecahkannya lewat
koordinasi kembali bersama warga dibantu oleh Kepala Dusun. Beruntung, beberapa
warga bersedia menyumbangkan material mentah berupa kayu, seng, dan papan. Bahkan
penduduk mewakafkan dua hektar tanah tempat sekolah pertama akan dibangun. Dalam
hati, Jannah tergugu haru. Dia rupanya tidak sendiri.
![]() |
| MI dan MTs DDI Bara |
Tahun 2014 akhirnya tonggak
peradaban edukasi pertama resmi berdiri. Lebih dari 100 orang anak rentang usia
6 – 17 tahun datang berbondong-bondong dari segala penjuru dusun, memenuhi
ruangan 6x12 meter. Sekolah kayu itu baru terbagi ke dalam tiga ruang kelas,
sehingga proses pembelajaran dilakukan secara paralel. Di atas bangku-bangku
kayu lapuk dan dinding seng, mereka mulai mengenal ABC dan 123. Angin gunung
berembus dari jendela tanpa kaca di sudut kelas dan rongga tempat di mana pintu
seharusnya berada. Di luar gedung, lapangan sekolah bermandikan sinar matahari. Pegunungan
jelas nampak di tepi horizon.
![]() |
| Ruang Kelas 1 dan 2 MI DDI Bara |
Peran sebagai pendiri,
pengurus, sekaligus pengajar non-PNS di MI dan MTs DDI Bara kerap kali dia
lakoni seperti pemain tunggal dalam teater. Dua tiga kali dia menawari
rekan-rekannya untuk turut andil berbagi ilmu, dua tiga kali pula Jannah menuai
kecewa. Sejauh ini, belum ada satupun kawan mengajarnya yang betah bermukim
disana. Jauh dari mana-mana. Terlebih lagi jalur terjal yang mesti dilalui,
ditambah sinyal telepon yang minim, membuat orang lain berpikir seribu kali
sebelum merelakan diri terjun sebagai guru di sana. Belum menghitung status
Kepala Sekolah “bayangan” yang mesti dijalankannya, karena Sang Kepala Sekolah
asli hanya berkunjung sekali dua kali. Dalam setahun. Lagi-lagi Jannah terus
ikhtiar. Demi senyum anak-anaknya setiap pagi. Inilah kebahagiaan kecilnya saban
hari.
--
Sampai saat ini, Jannah sang
pelopor pendidikan, si gadis kampung Bontoparang, alumnus Madrasah Aliyah,
terus memainkan perannya bagi keadilan pendidikan di Indonesia, sembari melanjutkan
kuliah di STAI DDI Makassar. Selasa hingga Kamis dia menghabiskan waktu di
sekolah, lalu di hari Jumat-Ahad dia “turun gunung” menuju kota. Di balik
kebeliaan, sakit yang diidap, dan banyak kekurangan dalam dirinya, Jannah
bertekad terus menjalankan dua perihal agung dalam hidup; belajar dan mengajar.
--





0 comments:
Post a Comment