image1 image2 image3

HELLO I'M RARAA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|LET THE WORDS BRING YOUR MEMORIES|'KEEP READING!

Membaca Losari Sebelum Senja


Losari di tahun 2001.
sumber: fotomakassar.blogspot.com

Sesorean itu seliweran orang-orang yang datang dari penjuru lorong-lorong kota memenuhi setiap jengkal bibir pantai. Langit biru kekuning-kuningan, matahari menyembul di balik semburat awan bersisik. Pertanda cuaca sedang ramah, tipikal medio Juni. Nun jauh di sana ada horizon, dan garis cakrawala. Deburan ombak memecah di antara pasir-pasir pantai. Aroma asin khas laut mendominasi udara, bau ikan segar samar tercium dari perahu nelayan yang tertambat di dermaga di sisi jauh garis pantai. Orang-orang datang menemui ketenangan disana setelah penat bekerja seharian.
---
Setiap kali saya memejamkan mata dan mengingat Losari, gambaran ini yang kali pertama terlintas di benak. Meski kenyataan juga selalu menampar saya tiap lewat atau mampir kesana. Bagi siapapun yang pernah menginjakkan kaki di landmark kota Makassar itu lima tahun terakhir, barangkali sepakat jika deskripsi semacam ini adalah bentuk hiperbolis, jika tak ingin menyebutnya penipuan macam iklan-iklan wisata.
Meski sejujurnya, ini bukanlah imajinasi seorang perempuan galau yang merindukan laut. Lebih dari sepuluh tahun lalu, di usia sekolah dasar kala itu, begitulah imaji Pantai Losari yang sempat terekam di ingatan. Bahkan, masih kudapati banyak kepiting kecil yang menggali-gali pasir pantai. Tapi itu dulu, sebelum gebrakan pembangunan menyerang.
Sejak kapitalisme melanda dunia, kota-kota besar mulai dijangkiti oknum-oknum yang ingin melebarkan tentakel investasinya. Makassar, didukung tagline Menuju Kota Dunia, tentu menjadi salah satu aset berharga. Kini jamak ditemui hotel bermacam bentuk di sepanjang jalan Metro Tanjung Bunga yang menimbulkan keresahan “kemana perginya para pencari tude?”.
Salah satu perusahaan raksasa malah menargetkan lahan seluas 157 Hektar untuk membangun apa yang dinamakan Center Point of Indonesia (CPI). Wah, area seluas itu bisa hidup berapa ratus ribu tude, ya? Barangkali mereka lupa jika Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) di tahun 2014 mencatat bahwa 12% populasi manusia di dunia menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan.
Bersamaan dengan itu, landmark CPI semakin menjulang tinggi di atas timbunan tanah yang dulunya adalah lautan. Panjang pantai menyusut dari 2 km, kini tinggal menyisakan 500 meter. Sisa itu kini dibangun undakan, anjungan, dan segala macam aksesori menor, yang membuat tapak kaki kita tak lagi mampu menjangkau deburan ombak. Pemolesan ini akan terus berlanjut sampai mencapai luas 50 hektar.
Pembangunan CPI menuai kontra di sana sini.
sumber: www.mongabay.co.id
---
Tidaklah berlebihan mempersonifikasikan Pantai Losari sebagai seorang gadis manis yang lugu. Ibunya, pemuja kecantikan sementara Ayahnya wirausaha kawakan. Jadilah ia dipermak habis-habisan dan didandani sana-sini. Lalu dikawinkan dengan konglomerat senior agar dia bisa terus-menerus disuplai kosmetik kualitas tinggi dan barang-barang branded ala Hasibuan. Semata-mata objek memuaskan keinginan orang tua.
Sayangnya, orang tua ini mungkin tak pernah membaca tulisan Eko Laksono, seorang pemerhati kota. Dalam pengantarnya di buku Metropolis Universalis dia menulis, “Kota bisa menciptakan kebahagiaan, menginspirasi kemajuan, memberikan pencerahan pada jutaan warganya, menyinergikan segala ide, pengetahuan, dan inovasi…”. Lalu, bahagiakah kita menyaksikan Losari terluka? Pencerahan semacam apakah yang muncul di antara bau pesing dan tumpukan sampah yang mengambang di atas laut?
Satu-satunya iluminasi dalam hal ini adalah keberlanjutan reklamasi hingga seluas 4500 hektar akan menjangkau ruang pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar pantai. Parahnya, menilik laporan dari Sekretaris Jendral KIARA, Susan Herawati, dalam situs Mongabay Indonesia tahun 2017, hal ini dilakukan tanpa adanya pembahasan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K).
Ide menciptakan Makassar menuju Kota Dunia lewat eksploitasi pantai tentu bukanlah hal bijak. Terlebih, masyarakat sekadar dilenakan keindahan ilusi ikon CPI yang kerap jadi lokasi hunting foto anak-anak muda kekinian dengan cukup bermodal uang parkir. Atau semarak event berskala masif macam Makassar International Eight Festival and Forum yang “hanya” memakan biaya 1 Milyar dengan jumlah pengunjung mencapai 290.000 orang berdesak-desakan menontoni artis ibu kota. Mau dibilang rame, tapi akhirnya orang-orang kecil saling menyikut, kehabisan nafas gara-gara nda cukup ruang.
Swafoto dan acara foya-foya tidak akan cukup mampu mengimbangi kegiatan duduk-duduk santai di tepi pantai sambil memandang senja dan berdiskusi perihal sejarah atau masa depan kota. Jauh lebih baik mengisi sisi-sisi pantai dengan taman baca dan buku-buku berbobot, alih-alih bangunan tak jelas juntrungannya seperti Apartemen Lorong.
---
Aktivitas intelektual sepertinya malah jauh lebih berguna untuk membangun peradaban. Sebut saja Eropa sesaat sebelum masa Renaisans. Terkurung dalam Dark Age selama ribuan tahun memaksa orang-orang di dalamnya berpikir ulang tentang hakikat agama dan sains. Lahirlah pemikir-pemikir ulung, di antaranya Leonardo Da Vinci dan Sir Isaac Newton, mengusung gerakan Iluminati atau pencerahan yang mengawal menuju renaisans.
Sebagian besar kota-kota besar di dunia menciptakan lingkungan yang nyaman bagi warganya untuk bertukar ide dan mengembangkan inovasi-inovasi sarat ilmu. Bukan melulu berpacu pada bangunan fisik to’. Edward L. Glaeser dalam Triumph of The City saja menyatakan jika, “from classical Athens to eighth-century Baghdad to Nagasaki, cities have always been the most effective way to transfer knowledge between civilizations.”
Meskipun mustahil mencopot jejeran pencakar langit di sekitaran pantai, apalagi meluluh-lantakkan undakan dan anjungan, karena kita bisa dicap vandalisme (bukan anarkis, ya!). Tapi kita masih bisa meminta satu hal, perihal si manis Pantai Losari.

Keramaian Pantai Losari menjelang senja
sumber: www.tripsavvy.com
Biarkanlah dia tumbuh menjadi seorang perempuan yang tumbuh cerdas lewat pemikiran-pemikiran visioner, kegiatan literasi, dan buku-buku bacaan yang mendukung. Bebaskan saja dia menghidu aroma laut yang bersih, bercermin lewat air biru jernih, dan menyaksikan senja menghilang di balik matanya yang polos. Dengan begitu, orang-orang akan senang berteman dengannya. Orang-orang akan datang membawa gagasan, bertukar aspirasi, dan memulai gerakan-gerakan revolusioner di pantai.
---
Terakhir, Thomas Jefferson, Bapak Bangsa Amerika, berpesan kepada kita, “Jika sebuah bangsa terbelakang ilmunya, tetapi memimpikan kebebasan, maka ia mengharapkan apa yang tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada.”

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment