Pagi kemarin selepas pukul delapan, saya pulang mendapati sumpah serapah menghardik kedamaian blok-blok rumah tetangga yang hanya dibatasi tembok tanpa plamur. Makian beraksen Makassar -yang disinonimkan secara sembrono oleh orang luar dengan kasar dan keras- awet keluar dari mulut seorang ibu paruh baya yang tidak lain tetangga bersebelahan rumah saya. Mengintip takut-takut dari balik jendela buram, tidak terlihat satupun orang-orang yang berniat mendinginkan atmosfir. Hening dan mencekam. Kecuali satu dua kendaraan lalu lalang, tidak ada keributan lain yang hidup. Suara tunggal yang terdengar sampai jarak sepuluh petak rumah hanya umpatan ibu tadi.
Orang-orang di sekitaran tak ada yang memajukan diri dengan berani mendekati kemarahan ibu tadi. Sebagian segan. Sebagian lain acuh. Tapi banyak pula yang mafhum. Keresahan ibu tetangga ini begitu mudah dimaklumi. Siapalah orang yang bersabar setelah menemukan delapan bangkai tikus bertumpuk tepat di seberang rumah. Apalagi lebar jalan yang membatasi hanya semeter lebih sedikit. Rasa jengkel beliau sebenarnya dimulai berminggu-minggu lalu. Satu dua bangkai rutin menyambangi depan rumahnya. Puncaknya kemarin. Dan dia memilih katarsis lewat serentetan serapah. "Kong***". Melaknat orang yang dengan enteng membawa bangkai ke hadapannya.
Kehidupan sosial memang kompleks. Barangkali hal ini meyakinkan para sophie untuk menetap di dalam gua-gua tak bertetangga. Sebagian membangun penjara bergaya Victoria untuk meredam bising. Mengurung diri. Ada yang siap membuang diri ke rimba dan hidup berdampingan dengan beragam kingdom. Tarzan be like. Toh, sosiolog jauh-jauh hari menasbihkan manusia dengan julukan homo socialis. Dan pada akhirnya, selama apapun para sophie mendekam di gua, mereka akan keluar karena pantulan api yang menyala-nyala dari luar. Penghuni kastil, satu hari kehabisan makanan dan musti berbelanja ke pasar. Pun dengan tarzan, seprimitif apapun otaknya, di satu masa dia jatuh cinta pada Jane yang memboyongnya ke kota.
Termasuk saya di dalamnya. Selama apa menjauhi rumah. Toh di satu pagi, saya harus pulang dan mendengarkan amuk tetangga.
.
.
.
0 comments:
Post a Comment