
photo credit: micwits101.deviantart.com
Seperti
apa rasanya, terbangun dan menemukan diri dikepung rasa bersalah akibat
permohonan maaf yang belum sempat terkirim, atau salam perpisahan yang masih
tertinggal di dalam lemari ingatan? Kau belum tentu benar-benar ingin kembali
ke masa lalu demi menuntaskan fragmen semacam ini. Hal pertama yang terpikir
hanya menulis. Setengah berharap tulisan itu cukup baik untuk terbaca dan dipahami
oleh orang lain. Jika cukup beruntung, bisa menggantikan ucapan maaf. Atau
sekurang-kurangnya, meniadakan gemuruh sesal di dada.
Kira-kira
momen seperti itulah yang mengilhami Dilan menuliskan suaranya di buku berjudul
Milea: Suara dari Dilan. Perasaan rindu yang datang tiba-tiba, juga memaksa
Jiwa Matajang membalas surat Nanti dalam catatannya, Lelaki Terakhir yang
Menangis di Bumi. Terlebih bagi Toru Watanabe. Tidak ada hal lain yang cukup
kuat menghapuskan rasa kehilangannya selain menulis Norwegian Wood.
Sesaat
setelah menuntaskan kisah Dilan, aku termangu. Dan buru-buru membereskan
serpihan-serpihan memori yang tadi berserakan. Sial! Di sepanjang tulisannya,
Dilan menuturkan kembali banyak kenangannya bersama Milea, dengan gaya yang
menurutku sangat tenang. Sangat bukan Dilan. Di buku ketiga karangan Pidi Baiq,
Dilan dan Milea sudah punya jatah bahagia masing-masing. Titik klimaksnya
justru ketika Milea datang ke rumah Burhan, teman Dilan, seminggu setelah salah
seorang sahabat Dilan meninggal akibat dikeroyok geng motor. Bertahun-tahun
lalu, hanya demi menyuarakan “putus” secara langsung. Bodohnya, Dilan tidak
menyisakan satu tanda tanyapun untuk Milea, bahkan dia menjauh dan mulai
merayakan hari-hari penuh rindu yang berjarak. Jauh setelah masa-masa berkabung
usai, mereka berdua baru menemukan kesadaran setelah Milea menerbitkan Dia
Adalah Dilanku Tahun 1991. Setelah Milea akan bertunangan dengan Mas Herdi dan
Dilan mencintai Cika.
Kisah
cinta Dilan dan Milea barangkali hanya roman picisan, yang dialami hampir semua
manusia yang pernah jadi anak SMA. Tapi,
cara Dilan bertutur, menegaskan bahwa apa-apa yang belum kau tuntaskan segera,
akan berakhir dalam bentuk kesalahpahaman. Pada satu masa nanti bakal menyergapmu
seperti mimpi buruk. Termasuk perkara hati.
Cerita
Jiwa Matajang bersama Nanti terkesan lebih dewasa. Meski tetap saja
diselesaikan dengan tergesa-gesa. “Di masa depan, akan selalu ada kita”,
terdengar seperti omong-kosong setelah Nanti lebih memilih menikah dengan
laki-laki pilihan orang tuanya. Waktu enam tahun yang dihabiskan dengan merawat
Perpustakaan Terakhir bersama-sama, kerap kali membaca satu dua puisi sebelum
tidur, dan saling berbagi sepi, tidak lantas menawarkan keabadian. Tahun-tahun
terakhir romansa mereka, dipenuhi keluhan. Lebih sering pertengkaran kecil,
yang diselesaikan dengan hening. Sampai Nanti kembali ke Makassar setelah
menemui orang tuanya di Jakarta, dan mengabarkan perihal perpisahan.
Berpuluh
tahun kemudian, Nanti masih menemukan dirinya di dalam surat-surat yang
ditulisnya untuk Jiwa. Di malam-malam ketika suaminya telah tertidur. Jiwa
dengan tegas memutuskan hidup selibat. Mereka bersepakat untuk berpulang ke
jalan berbeda, tapi hatinya terus melaju ke arah yang sama. Tetap saja.
Perpisahan menyimpan sisa-sisa perasaan di sudut ingatan.
Toru
Watanabe punya ikatan yang lebih gelap dengan kepergian. Dia merasa ada suara
yang terus memanggilnya dari kejauhan setiap kali mengingat Naoko. Gadis rapuh
yang menderita gangguan jiwa setelah peristiwa bunuh diri Kizuki, pacar Naoko
sekaligus sahabat Toru. Alih-alih memperjuangkan Naoko, Toru justru memilih menyibukkan
diri di lingkaran perempuan-perempuan Jepang dan kehidupan bebas. Toru begitu
mencintai Naoko walau yang dilakukannya hanya terus-terusan berpikir tentang
hal lain. Sampai kemudian, Naoko memutuskan bunuh diri. Entah apa di pikiran
Toru waktu itu. Yang kurasa, seandainya Toru lebih kuat menjaga Naoko agar
tidak merasa kesepian, atau menata perasaannya sendiri tanpa perlu lari, kecil
kemungkinan Naoko pergi.
Masa lalu punya kekuatan
yang mampu memakan ketenangan malam, seperti mimpi buruk. Selain menuliskan
penebusan dosa dalam buku catatan, rasanya hanya bisa lumpuh sesaat. Sembari memohon
agar maaf tersampaikan dan kecemasan hilang. Walau tetap saja kenangan tidak
beranjak kemanapun.

"Masa lalu punya kekuatan yang mampu memakan ketenangan malam, seperti mimpi buruk"
ReplyDeleteBetul sekali, kak Rara. Setidaknya itu yg terjadi pada saya hampir dua tahun belakangan ini, sy bahkan pernah mengonsumsi obat tidur. Banyak hal yg berakhir tanpa pernah diselesaikan.
Sukaa banget tulisannya ❤
Sehimpun kisah masa lalu hehe