Cerita Kami Tanpa Kalian
Rasa-rasanya
baru beberapa hari yang lalu kalian berpamitan di rumah kita, mentraktir kami
dengan nasi goreng dan ayam krispi, lantas esoknya kalian terbang ke pulau sana
demi meraih satu pengalaman yang benar-benar baru (sekalian nambah daftar pengalaman
di CV :D). Kami masih menabung rindu untuk kalian, jangan lupa untuk datang
bila waktunya sudah habis dan pecahkan celengan ini bersama-sama.
Pengalaman
baru itu ternyata bukan hanya milik kalian. Disini, pengalaman itu berubah
wujud menjadi desa dibalik tumpukan gunung. Di desa itu, kami merasakan hawa
dingin namun menghangatkan. Dan kami menjelajahi desa itu dengan truk besar,
bertumpuk-tumpuk kami di dalamnya seperti ikan asin. Dan kami memang
benar-benar kering di panggang matahari. (jadi jangan kaget melihat kulit
eksotis kami di foto-foto itu). Orang-orang disana ramah, kuyakin lebih ramah
dibanding mereka di pulau sana. Disana kami belajar, mengajar, kadang juga
saling memarahi. Di luar itu, kami bangga bisa menginjakkan kaki di atas
jalanan berbatu itu. Sebab kami hadir disana membawa revolusi bagi orang-orang.
Kami mengajari mereka membuat aneka kerajinan cantik, minyak kemiri
berkualitas, dan mendudukkan mereka di lapangan beralaskan rumput beratap gemintang,
hanya untuk menyemangati mereka sekolah, dan sekolah. Sungguh mulia! Disana
airnya dingin dan menyejukkan, tapi kami selalu merasa hangat dikelilingi
orang-orang yang ramah senyum. Anak-anaknya polos, berlum tercemari udara kota
yang sekuler. Pandangan mereka masih
hitam putih. Tak akan kau dapatkan anak-anak seperti mereka di pulau sana.
Mereka spesial, sama spesialnya dengan para orang tua mereka yang senantiasa menyapa
kami. Anak-anak itu pandai bernyanyi, menari, berpuisi, bermain sepak bola,
bermain takraw, mengaji, dan tentu saja mereka pandai membuat kami terharu.
5
hari kami disana, sekembalinya kami dihadapkan pada sebentuk pengalaman lain
bernama Harlah. Ini tahun pertama kami mencicipi meriahnya hari lahir rumah
kita. Sibuk sana, sibuk sini. Dekor sana, dekor sini. Jadilah pesta itu
menyalakan malam kami di rumah kita. Kami jadi saksi pemotongan tumpeng untuk
yang ke 16 kalinya. Kami berlomba-lomba mengirim tweet agar bisa visible
di layar besar, menuliskan harapan-harapan besar kami di spanduk besar bertuliskan make a wish (kami terharu membaca impian-impian besar kami), bermandikan balon-balon pink, dan ada saja yang iseng
memecahkannya. Kami tertawa, makan bersama, berfoto bersama, dan mendengarkan
para tetuah berbicara. Kalian tentu bisa mencicipi keramaian itu (lewat
foto-foto yang kami bagikan, khusus untuk kalian).
Selepas
pesta 16 tahun itu, kami kembali bergelut dengan rutinitas yang nyaris
membosankan. LPJ, PKM, dan tetek-bengek lain menyangkut tulis-menulis. Kami
merindukan kalian yang sedang asik belajar tanpa ada gangguan yang menyebalkan
tapi menyenangkan dari kami. Sulit sekali rasanya kita saling menyapa, bahkan
untuk sekadar curhat tentang sakit gigi ataupun keuangan yang mulai menipis.
Tapi tak apa, toh kami telah membungkus berbagai sensasi baru yang kami rasakan
di dalam catatan ini. Jangan lupa datang jika waktunya sudah habis, dan
pecahkan celengan rindu kita di rumah kita!^^

