Layaknya Sagitta, kau hadir dalam gulita yang meruntuhkan keangkuhan langit
Menyapa gulita dengan redupmu, waktu seketika menjadi detik yang memuai lamban
Satu-satunya gerak yang mampu kulakukan hanyalah menghela napas
Kaloriku menguap di kala kekagumanku membuncah
Aku lelah, namun tetap kuserahkan tatapan memujaku demi secuil keindahan itu
Hanya memandangimu dari balik kabut pekat yang meyelimuti purnama
Entah berapa malam aku telah menorehkan jejak sunyi di atas lumpur
Hanya untuk menikmati redupmu berasimilasi dengan bola mataku
Bukan salahmu bila akhirnya larik-larik cahaya mulai membakar malam
Aku hidup, namun kesadaranku ditransendensi oleh keheningan
"Kapan kau akan menjawab tanyaku?" aku bergumam, memecah udara
Hening. Senyap. Seperti beribu tanya sebelumnya, tak pernah kutemukan satu jawab di dalamnya
Aku terus menggurat senyum untukmu, langitpun menyimpannya untukmu
Aku tak peduli. Terus saja aku menatapmu, Sagitta.
CONVERSATION
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

0 comments:
Post a Comment