Merekam Jejak Anak-anak Ajaib Kayuadi
| Anak-anak Kayuadi |
"Kak Raraa, masa' toh tadi ada orang mau buang sampah di
laut!"
Seorang bocah lelaki berbaju hijau tiba-tiba lewat di depanku
menampakkan ekspresi kesal. Alisnya terangkat, dadanya bergemuruh naik turun.
"Tapi kubilangi ji jangan ki buang sampah di laut. Tidak
boleh na bilang kakak-kakak. Nanti mati semua ikan." Dia pun mengelus
dada, lalu pelan-pelan mulai tenang.
"Mantap, bosku!" Itu saja yang bisa kujawab, setelah
tercenung sekian detik. Dia pun berlalu sembari tersenyum lebar, seolah telah
memenangkan pertandingan.
Kejadian ini berlangsung di kala siang beranjak sore, sekira
pukul 3, di halaman rumah tetangga. Selang beberapa menit semenjak si bocah
pergi, saya lalu duduk di bangku plastik, merenungi kalimat-kalimat yang dia
lontarkan barusan. Seorang anak, usianya belum lagi menginjak 13 tahun.
Melarang seorang warga, orang dewasa tentunya, untuk membuang sampah di laut.
Ironi?
---
Mengaku saja, pasti kita pernah, kan, menganggap remeh anak
kecil? Merasa bahwa mereka belum tahu banyak dibanding kita yang sudah lebih
dulu makan garam kehidupan. Bahkan, kerap ditemui orang tua yang mendikte anak
ini-itu, seolah mereka adalah Si Maha Tahu Segala, sedangkan anak adalah botol
kosong yang harus diisi kepalanya dengan kalimat perintah.
Tapi, setiap saya berkenalan dengan anak-anak, stigma ini langsung jungkir-balik, terjun bebas, lalu pop! Menghilang di kepalaku. Seperti ketika berjumpa bocah-bocah ajaib di pulau kecil bernama Kayuadi.
Tapi, setiap saya berkenalan dengan anak-anak, stigma ini langsung jungkir-balik, terjun bebas, lalu pop! Menghilang di kepalaku. Seperti ketika berjumpa bocah-bocah ajaib di pulau kecil bernama Kayuadi.
| sebagian kecil Anak-anak Kayuadi |
Coba cek di Google Maps, di mana itu Kayuadi? Kamu akan
menemukan noktah di bawah kaki Sulawesi. Kayuadi, atau Kajuadi dalam pelafalan
dialek Konjo-Selayar, hanya secuil titik di antara 17.500 pulau di Indonesia,
tapi bolehlah disebut "besar" di antara gugusan pulau di Kabupaten
Kepulauan Selayar. Melingkupi tiga desa yakni Kayuadi, Nyiur Indah, dan Batang
sebagai pusat sekaligus ibukota kecamatan Taka Bonerate, luas pulau mencapai
175 km2. Yaaaa, kalau naik motor mengelilingi pulau bisa
menghabiskan 4 jam, kurang lebih.
Barulah kami menengok Kayuadi di saat Ekspedisi Nusantara Jaya
Universitas Negeri Makassar 2018, program tahunan Kementerian Koordinator
Kemaritiman Republik Indonesia bagi Perguruan Tinggi, resmi dilaksanakan di
sana. Rasa penasaran pun bermunculan, seperti apa rasanya hidup di pulau asing
selama sebulan penuh?
Setelah 52 jam terombang-ambing di atas Sabuk Nusantara 50, dari
Makassar melewati Bantaeng, Bulukumba, dan Benteng, ibukota Kabupaten Kepulauan
Selayar, tepat pukul 18.00, di Pelabuhan Timoro', perasaan waswas itu perlahan
terurai, dan dimulailah perkenalan kami dengan anak-anak laut yang menyimpan
sejuta keajaiban.
| Dermaga Desa Batang, Pulau Kayuadi |
Matahari tepat terpancang di atas kepala. Angin semilir membawa hawa sepoi-sepoi. Samar tercium air asin dari laut. Dermaga kayu Desa Batang dan sekitarnya lengang. Keriuhan hanya terdengar dari teras posko ENJ yang berjarak 50 meter dari timur dermaga.
Rupanya belasan anak-anak lelaki dan perempuan memenuhi setiap
jengkal teras, bahkan ruang tamu. Mereka khusyuk menggambar sesuatu di atas
selembar kertas A4.
"Kak, habismi kertasku, masih mau ka menggambar,"
cetus seorang anak yang memegang kertas berisi gambar karakter naruto.
"Saya juga kak, habismi kertasku," satu anak lain ikut
bersuara. Setelah menerima kertas baru, mereka lalu kembali konsentrasi
mengimitasi imaji dari buku-buku bergambar.
| Seorang anak sedang fokus menggambar karakter favoritnya |
Ritual menggambar dan mewarnai setiap siang hingga sore ini juga dibarengi dengan mengutak-atik tumpukan buku bacaan yang tertata di atas balai kayu. Ada yang sibuk membolak-balik komik, ada pula yang melihat-lihat ilustrasi di buku dongeng. Biasanya mereka ini, sehabis lima menit, langsung mengambil buku yang lain.
| Anak-anak sedang belajar mencampur-adukkan warna |
Tapi tidak dengan sesosok anak di pojok kanan ruangan. Sedari tadi fokus menuntaskan satu buku tanpa terdistraksi keributan.
"Siapa nama ta', dek?"
Dia melongokkan kepala, lalu menjawab, "Rasya."
Pipi agak tembem dan berkulit cerah. Begitu citra fisik yang
terbayang di kepala ketika mengingat Rasya. Ingatan yang paling melekat di
kepalaku tentang dia adalah kebiasaannya membaca buku. Bukan komik, buku bergambar, atau dongeng. Tapi buku pengetahuan
umum yang tebalnya dua sentimeter.
Sekilas dia kelihatan seperti murid kelas 3, nyatanya dia sudah
duduk di bangku kelas 5. Apalagi jika sedang berbicara, entah kenapa menurutku
dia tampak lebih dewasa. Satu dua kali pernah kucoba mengetes kemampuan
kognitifnya.
"Kau tau siapa presiden ketiganya Indonesia?"
"Hmm, Habibie." Jawabnya seketika.
Rasya juga seringkali bersikap spontan yang membuat kami
terkesima. Waktu itu, di teras posko, teman-teman delegasi mengecat bimba-alias
limbah kerang-yang akan dijadikan produk industri kreatif. Pesisir pantai
Kayuadi memang dipenuhi kerang-kerangan yang hanya jadi sampah. Teman-teman
delegasi lalu mendaur ulangnya menjadi gantungan kunci.
Tak ada angin tak ada hujan, Rasya mengajukan diri ikut membantu.
Lima menit berlalu dalam keheningan, dia tetiba melepaskan bimba dari tangannya
dan berujar, "malas ma deh," yang sontak mengundang tawa.
Saya lalu bertanya-tanya, apa di sekolah dia juga sebebas ini
mengungkapkan isi kepalanya? Semoga saja, iya.
| Rasya (berbaju kuning), Anak-anak Kayuadi, dan Delegasi ENJ UNM 2018 |
Beda rusa, beda pula ikan pari.
Beda Rasya, beda pula Andi' Ari.
Beragam stereotip negatif
tentang anak kecil barangkali disandang oleh Andi Ari. Tidak patuh pada
perintah, susah diatur, sukanya main terus, dan sebagainya. Seperti Jendral
Pilik dalam Perahu Kertas
| Andi Ari', Pendekar Kayuadi |
Bayangkan saja, ketika semua anak lain asyik berjibaku dengan gambar dan buku, dia malah seenaknya memukul-mukul keygen (kejon) sambil bernyanyi tak jelas. Kadang juga dia iseng membaca keras-keras aneka tulisan di tembok; hasil briefing harian, jadwal piket, tata tertib posko. Atau, paling sering, bertanya, "di mana kakak Galang?" dan "di mana kakak Akram?".
Kedua nama itu, Akram dan Galang, jadi duo favorit anak-anak,
termasuk Andi Ari' karena kebiasannya menggambar bermacam karakter. Paling
sering sih, gambar Naruto. Karena kesibukan membuat mural di kantor kecamatan,
mereka sering menghilang dari posko, dan sering kali para bocah menanyakan
keberadaannya. Andi' Ari salah satu yang paling getol mencari.
Di balik sikapnya yang agak kekiri-kirian, ternyata Andi Ari'
punya banyak kejutan. Anak kelas 6 ini jago berpantun, seorang temannya pernah
mengakui. Dia juga selalu punya jawaban nyeleneh ketika ditanya.
"Kenapa ko nda pake sendal, Andi Ari'?"
Dengan santainya dia menjawab, "pake ka ini, pake sendal
tak terlihat'".
Tak dinyana dia juga anak
yang rajin. Setiap kali melihat teman-teman ENJ membersihkan, dia juga biasa
hadir. Terlebih, dia mengajak teman sejawatnya untuk ikut serta.
| Delegasi dan Anak-anak Kayuadi turun ke laut membersihkan sampah |
Pernah suatu sore, waktu senja sedikit lagi tiba, teman-teman
delegasi sedang membereskan Rumah Inspirasi yang baru saja rampung. Ruang
seluas 2 x 3 meter yang penuh gambar warna-warni itu diisi sekira 500 eksemplar
buku donasi, mulai dari bacaan anak hingga pengetahuan umum.
Sebagian bocah berlarian di sekeliling Rumah Inspirasi, Andi Ari
dengan suara lantang menegurnya.
"Hey, ayo membersihkan eh," ajaknya dalam dialek khas
Selayar.
Tidak berhenti sampai di situ saja keunikan bocah berkulit gelap
ini. Dia malah sukarela bertugas sebagai "polisi sampah" di area
dermaga. Setiap kali melihat penduduk membawa gerobak berisi tumpukan sampah,
dia dengan sigap mencegahnya. Anak kecil berbaju hijau yang kuceritakan di
awal? Ya, dialah Andi Ari'.
Hmmm. Bocah "pemberontak" itu lebih siap menjaga
alamnya dibanding manusia dewasa yang katanya cinta tanah air.
| Andi Ari' dan Rian |
Masih belum percaya anak-anak Kayuadi itu ajaib? Cobalah bertemu
"delegasi" ke 26 dan 27, kakak beradik Ado'-Tanjung.
Menyabet rekor sebagai anak yang paling rajin mengunjungi posko,
tiada hari yang kami lewati tanpa kehadiran mereka berdua. Pagi sebelum memulai
aktivitas, mereka sudah muncul di depan rumah. Siang hari mereka ikut bermain
dan belajar bersama teman-temannya di teras. Sore hari, ketika kami menjalani
rutinitas bersih pantai sembari menunggu senja, mereka pasti ada di sekitaran
dermaga. Bahkan, di malam hari, Ado' dan Tanjung masih betah berlama-lama.
Ado' dan Tanjung tipikal anak pesisir. Kulit gelap, jarang
memakai alas kaki, dan tentu saja mahir berenang.
Ado' yang berada di kelas 3 SD, sayang sekali belum pandai
mengenal huruf. Hal ini kuketahui dari temannya di sela-sela "jam
membaca".
"Nda tau pi itu membaca Ado' kak," lapor seorang anak.
"Iye kak, padahal kelas 3 mi," yang lain ikut-ikutan
mengompori.
Ado' yang sedari tadi sedang seru-serunya menggambar, hanya
tertawa malu.
Sebenarnya dia punya tekad kuat. Setelah kutawari untuk belajar,
dia penuh semangat menganggukkan kepala. Hari demi hari, Ado' mulai mengenal
alfabet dan sedikit sedikit mengeja kata sederhana. Seringkali, dia sendiri
yang mengingatkan, "kak, ayo mi lagi belajar,"
Meski belum akrab dengan aksara, Ado' jauh lebih mengenal seluk
beluk pantai Kayuadi. Kudapati dia sering berenang sendiri di tengah laut
dengan santainya. Berbagai gaya renang dia lakoni. Melihatnya berenang seperti
menyaksikan makhluk laut muncul ke permukaan. Dia memang terlahir sebagai anak
laut tulen.
Sebelas dua belas dengan kakaknya, Tanjung juga akrab bermain di
lautan. Bocah yang tingginya tak sampai sepinggangku itu, menguasai daerah
pesisir layaknya Larry si Penjaga Pantai dalam serial Spongebob Squarepants. Padahal dia baru kelas 1 SD! Lompat dari dermaga ke atas perahu dengan jarak 2 meter membentang, enteng saja
dia lakukan. Apalagi melompat dari dermaga ke laut biru, yang kalau dihitung
kedalamannya kira-kira mencapai 5-10 meter. Kami yang menyaksikannya sampai
terlongo takut takut.
Ah, mestinya mereka bisa jadi atlet Asean Games nantinya!
![]() |
| Ado' (baju merah), Nurul (baju kuning), Tanjung (baju oranye) |
Melukiskan jejak-jejak magis para bocah laut Kayuadi melahirkan
keresahan baru; Orang dewasa semestinya memahami isi kepala mereka, bukan malah
memandang sebelah mata. Sekolah seharusnya menjadi tempat bersukacita,
alih-alih pemberi hukuman tanpa arah. Karena sebenarnya hanya anak-anaklah yang
paling mengerti apa yang mereka cari.
Begitu kan, Agen Neptunus?
----
----
P.S. Lain waktu akan kuceritakan anak-anak Ajaib Kayuadi
lainnya!
(photo credit: Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Negeri Makassar 2018)



