Kata-kata di dalam Kepala Arul
Sejak semalam hujan tanpa ampun mengguyur seluruh perkampungan. Pagi ini, hujan bersanding dengan matahari yang naik sepenggalah. Langit abu-abu muram serupa dinding tembok rumah bersemen yang tak kunjung dilapisi plamur dan cat warna. Di tanjung, tepi bukit yang menjorok ke luar, kabut memayungi aliran sungai dan pegunungan di sekitarnya. Disini, kabut selalu hadir nyaris bersamaan dengan datangnya hujan.
Sementara alam
asyik-masyuk bermain dengan hujan dan kabut, keriuhan sekelompok anak kecil
terdengar samar-samar. Suara bisik kecil, teriakan lantang, juga nyanyian
sumbang merayap di balik dinding bambu. Tampak dari depan rumah bambu itu
terpampang tulisan "Taman Baca", berdampingan dengan gerombolan pohon
pendek berbunga warna merah dan kuning.
Di bagian dalam
rumah bambu yang terasa lebih hangat, dua tiga bocah laki-laki dan perempuan
duduk bersila membentuk lingkaran. Centrum lingkaran adalah seorang perempuan
remaja yang bertepuk tangan dengan pola-pola tertentu sambil menyanyikan lagu
ceria. Bocah-bocah tadi takjub dan tanpa sadar mengimitasi gerakan perempuan
itu. Semuanya tertawa-tawa. Satu sudut lain menampilkan anak sepantaran lima
tahun memanjat dinding rumah demi menemukan buku di atas rak kayu. Sebagian
lain menerawang dunia luar lewat celah-celah dinding. Hari menyepi.
Di antara hiruk
pikuk, tampak satu laki-laki duduk tenang menunduk. Seolah suara-suara berada
jauh dari dirinya. Dia mengunci diri bersama buku bersampul merah yang
diletakkan di pangkuannya. Mulutnya komat-kamit menggumamkan kata serupa
mantra. Wajahnya mengerut, sesekali alis tebalnya mengerinyit. Halaman yang
sedang dia cermati dipenuhi kalimat-kalimat panjang dengan huruf latin hitam.
Laki-laki itu
bernama Arul. Setiap pagi tubuh mungilnya duduk di salah satu deretan bangku
kelas 1 SD bersama puluhan lain anak-anak warga desa Kahayya. Jarak yang mesti
ditapakinya dari rumah menuju sekolah berbilang kilometer, Belum menghitung
tanah berlumpur dan kabut selepas hujan seperti sekarang ini. Taman baca dan
rumahnya dibatasi sekitar lima petak rumah penduduk lokal, memungkinkan dia
berkunjung lebih sering. Selepas siang, dia berjalan lebih jauh ke arah tanjung
dan menghabiskan sore bersama kawan-kawannya hingga adzan maghrib memanggilnya
pulang.
Arul, tipikal
anak kecil yang lahir dan dibesarkan di dusun, nun jauh dari geliat hegemoni
perkotaan. Hari-hari pertama mengarungi bumi, enam tahun lalu, dia disapih di
satu rumah panggung berkayu dekat tepian tanjung. Belum ada taman baca kala
itu. Hanya ada perbukitan Kahayya, pemukiman warga Sinjai Borong, dan sungai
deras yang membatasi keduanya.
Menatap Arul
kali awal di taman baca seperti menemukan Lintang di ruang kelasnya di
Belitong. Matanya menyorotkan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, yang belum
mampu dia tuturkan dalam frasa. Dia lampiaskan kegamangannya dengan melahap
buku-buku di taman baca. Hampir semua rekan sebayanya cukup bahagia dengan
buku-buku bergambar atau bahan bacaan ringan. Namun Arul lebih memilih
genre yang lebih serius. Pagi ini dia membaca Sejarah Kerajaan Bone, satu dari
tumpukan buku baru yang memenuhi rak.
Kendati
pikirannya melaju kencang seiring kebingungan yang begitu ingin dia pecahkan,
Arul masih belum sepenuhnya memahami kata. Secara harfiah, maupun terminologis.
Kadang-kadang dia berhenti di tengah-tengah bacaan, mencoba mengingat bagaimana
pelafalan ‘ny’ atau ‘ng’. Di momen semacam ini, jarinya berhenti tepat di
jejeran gabungan kata yang tak mampu dia baca. Setelah berhasil memecahkan
misteri kalimat, barulah dia meneruskan bacaannya.
Arul
tidak pernah menganggap dirinya terlalu muda untuk bersanding dengan buku-buku
tua. Malahan, saban membuka buku baru, dia menyempatkan diri membaca halaman
pertama; kata pengantar. Tapi kalau sisi kanak-kanaknya datang, dia bisa melewati
satu dua lembaran buku tanpa menyelesaikan seluruh baris. Meski sesekali menampakkan wajah malas, di
depan buku dia selalu nampak cerah. Seperti bertemu dengan kawan karib yang
menemaninya bercakap lewat tulisan.
Hujan
perlahan minggat dari kampung, menguarkan udara dingin yang masuk lewat celah
dinding rumah. Perempuan yang tadi menjadi pusat anak-anak bermain, kini
berdiri dan beranjak keluar. Bocah-bocah kecil mengekor. Arul terhentak, dilipatnya
buku di pangkuan lalu menaruhnya di antara tumpukan buku lain. Dengan
langkah-langkah kecil, dia menyelusup di antara kerumunan, menyusul. Matanya
menyorotkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang cerita yang barusan dia baca.

