Rumah Nalar
![]() |
| photo credit: sajakantigalau.wordpress.com |
Seorang perempuan berbaju batik warna biru tua dipadukan rok katun hitam baru saja turun dari pete-pete-mobil angkutan umum dalam bahasa Makassar-yang berwarna senada dengan jilbabnya. Pete-pete yang ditumpangi perempuan itu melaju kembali ke arah utara, sepanjang Jalan Dg. Tata Raya. Sepatu Converse hitam putih yang dia kenakan menginjak jalan berbatu kerikil selebar kurang lebih dua meter.
Menit
berlalu, dia belum beranjak lebih dari 10 meter dari tempatnya menapak kaki
pertama kali. Sesekali dia menoleh ke kiri, ke warung nasi goreng yang dibatasi
pagar hijau semeter yang besinya sudah karatan. Beberapa jenak setelahnya, dia
mengalihkan pandangan ke arah kanan. Dua tiga mobil terparkir rapi, di depan
rumah batu dengan plang “RENTAL MOBIL” tepat di tepi jalan. Suara klakson dan
arus kendaraan bermotor membuatnya menengok ke belakang.
Sambil
menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia melangkah kecil-kecil menuju setapak
berbatu di depannya. Lorong sepanjang 500 meter yang berada di antara areal
persawahan seluas kira-kira 20 meter persegi, mesti dia lalui demi sampai ke
tempat tujuan. Warna hijau kangkung memenuhi pandangannya di kiri-kanan lorong.
Memori
tiga tahun lalu itu tiba-tiba tersentak di ingatanku sesaat setelah sampai di
depan pintu secretariat sore ini. Di hari itu perasaan masih dipenuhi kegugupan
dan canggung untuk masuk ke wilayah Rumah Nalar, istilah untuk Sekretariat
Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar, salah satu
lembaga minat dan bakat yang ada di kampus UNM.
Rumah
Nalar berdiri di kawasan bekas pemukiman pegawai Patun Makateks, perusahaan
tekstil yang dulu sempat berjaya di tahun 90-an, namun kolaps dan akhirnya
terabaikan. Sekarang pemukiman tersebut
difungsikan sebagai pusat anggota Penalaran beraktivitas. Tentu tidak gratis.
Tidak
banyak yang berubah di rumah ini. Pekarangan seluas 5 x 10 meter masih
menguarkan bebauan daun kering yang berjatuhan dari pohon bercampur tanah
lembab sisa hujan semalam. Rupa-rupa pohon menjulang di depan halaman; kelapa,
mangga, jambu air. Sekitar delapan motor terparkir di halaman, tidak beraturan.
Sepatu berbagai model memenuhi beranda rumah, ada yang tersusun rapi di rak
yang memang dikhususkan untuk sepatu. Lebih banyak lagi yang tergeletak
serampangan. Kuantitas sepatu yang tersebar menandakan hari ini Rumah Nalar
penuh dengan keriuhan, seperti biasanya.
Benar
saja seperti itu. Baru melewati pintu rumah, kudapati seseorang duduk di sofa
dengan mata tertuju ke layar laptop menekuni papan keyboard. Di samping laptop terdapat tumpukan diktat kuliah dan
skripsi. Tiga orang lain bersantai sambil bercakap-cakap.
“Ayo
main 24 deh!”, teriak satu lelaki berbaju hitam yang sementara duduk di sofa,
mengajak
“Iyo,
ayo mi deh.”, laki-laki di sebelahnya menjawab sembari mengocok kartu joker.
Permainan 24 adalah games kartu joker dengan cara mengoperasikan angka dari 4
jenis kartu yang berbeda yang telah dipilih secara acak hingga menghasilkan
jumlah 24.
Alih-alih
memperhatikan mereka, pandanganku malah refleks tertumbuk di spanduk
kepengurusan yang terpasang di sisi kiri tembok, berukuran 3 x 2 meter. Sisi
lain dinding diisi dengan bingkai foto pengurus demisioner yang beberapa di
antaranya mulai menua. Papan agenda perekrutan anggota baru terpajang di bawah
bingkai foto.
Segerombolan
lain duduk melingkar di sudut ruang tengah, tepat di bawah papan jadwal
kegiatan, berdiskusi sambil memegang kertas-kertas rancangan proposal
penelitian. Sekali dua kali mereka mengerutkan hidung dan melempar tanya,
“Kak
bagaimana caranya ditentukan itu purposive
sampling?”.
Seseorang
yang sedang bersandar santai di dalam perpustakaan menjawab sambil lalu, “Kriteria
apa yang kau butuhkan sebagai objekmu kah? Misalnya dia telah bekerja selama
lima tahun sebagai petani garam, atau dia tinggal di wilayah tertentu.”.
Ruang
perpustakaan bercat biru yang terhubung dengan ruang tengah, dihuni oleh
jejeran buku-buku genre penelitian, organisasi, dan pengembangan diri. The Sage Handbook of Qualitative Research,
terjemahan How to Win Friends, dan
Perahu Pinisi, adalah beberapa judul buku yang ada disini. Pekarangan rumah
terpampang lewat jendela kayu perpustakaan yang memenuhi dinding selatan
tembok, berhadapan langsung dengan pintu perpustakaan.
Melalui
jendela perpustakaan, kulihat dua orang perempuan berbaju hitam putih baru saja
turun dari motor matic. Mereka saling
menatap, tertegun di tempat mereka memarkir motor. Salah seorang di antaranya
menggaruk kepala, yang lain mendorong temannya untuk berjalan lebih dulu.
Nyaris semenit berlalu dan mereka belum beranjak. Sesekali mereka menoleh ke
kiri kanan, sibuk menguat-nguatkan diri, sampai akhirnya mereka berjalan
lambat-lambat menuju pintu rumah. Aku hanya tersenyum geli.

