Obituari 1516
Perkara kematian secara konseptual selalu bersifat majemuk, sekaligus tunggal. Dalam dimensi religi kita mengenal kematian dengan banyak nama panggilan. Sudut pandang Hindu, misalnya, mengartikan kematian sebagai bagian dari siklus reinkarnasi; mati lalu hidup kembali dalam wujud berbeda untuk menebus karma. Para Peretas, Sarvara, Infiltran, juga Umbra dalam hikayat Supernova mengalami siklus hidup-mati-hidup ini. Sedang perspektif Kristiani dan Islam memandang kematian nyaris persis. Mati, adalah gerbang baru, semacam wormhole yang mengantarkan manusia dari dunia fana bernama bumi ke haribaan alam antah berantah nun jauh tak terbayangkan. Hanya singgah sebentar, mirip stasiun kereta, lalu beranjak lagi ke kehidupan eternal bernama akhirat. Final destination, tempat segalanya dibalaskan. Bolehlah kematian ini ditafsirkan beragam, tapi jelas ada satu interpretasi yang masih dimaklumi bersama; kematian adalah misteri.
Kematian seringnya datang diam-diam. Tapi kali ini pengecualian. Penentuan waktu kematian ini tidaklah didasari atas obsesif kompulsif pada misteri kematian itu sendiri, apalagi sekadar bosan hidup lalu berencana bunuh diri. Semata-mata karena waktunya memang telah selesai. Sejelas Desember yang jelas akan berakhir di tanggal 31 pada kalender Gregorian, kematian ini pun telah dinisbatkan jauh-jauh hari. Meski tiba-tiba ada perpanjangan umur, toh keniscayaan perihal berakhirnya kepengurusan 15/16 akhirnya tiba juga, di hari keempat bulan penghujung 2016, tepat saat dibacakannya surat keputusan. Surat yang menandai tamatnya 372 hari kehidupan dari 43 pengurus harian. Sudah barang tentu setiap dari kita masih sepenuhnya hidup, tapi satu bagian diri telah tiada. Sama halnya jenis kematian lain, selalu ada air mata-bahagia atau sedih- juga iring-iringan terima kasih atas hal-hal yang baik. Meski nilainya lebih ringan, jauh lebih ringan malah ketimbang amalan-amalan buruk yang tercatat. Pada akhirnya, kematian adalah tanda imortalitas kita. Bahkan status juga bisa tua, usang, dan mati. Akan ada orang-orang baru, ide baru, lagu baru. Seperti kata Plutarch Heavensbee, "no one can't be replaced,".
Setelah ini, tidak ada yang benar-benar berakhir. Barangkali ada yang hidup kembali menjelma balai-balai bambu, bunga matahari, atau pengurus (lagi?) lalu menebus dosa-dosanya setahun belakangan. Mungkin, ruh sebagian dari kita melayang di belahan dunia baru, sambil menunggu kematian lain. Semoga tenang di alam sana!
***
p.s.: Selalu ada bunga di setiap upacara pemakaman.


