Senjaku Hilang Dilamun Hujan
Gerimis mengerucutkan orang-orang yang sibuk berlalu lalang ke satu dua titik
Menyurutkan riuh kami menjajakan puding cincau-baru kali ini bukan coklat-
Tawa melebur di bawah mantel ditimpali ocehan kecil tentang langit gelap dan hujan yang makin menderas
"Ah, tunggu saja barang berapa menit. Pasti akan reda"
Lantas berlarianlah kami melawan dingin dan kembali menertawakan hujan
Kukatakan malam itu, laut, hujan, dan angin mengingatkan tentang rindu yang jauh. Jauh sekali
Rupanya malam itu, kau pulang duluan
Diam-diam menyelinap ke dalam hujan
Bahkan kaupun mungkin lupa-atau sengaja- tidak pamit
Dan malam itu, tawa benar-benar melebur ke dalam pekikan tak percaya
Ah, Kawan, tangis kami mengguncang kesadaran baru sekalipun masih bersisa ketidakpercayaan
Kutatap matamu sebelum kain tipis menutupnya dengan tega
Mata itu, mata yang sama di hari pertama aku berkenalan denganmu, hari itu kita sama-sama memakai almamater orange. Setahun lebih empat bulan lalu
Mata itu, mata yang sama di momen-momen terberat perjuangan kita bersama 78 orang lainnya. Kau selalu nampak ceria, kadangkala kritis, dan tak pernah mengurai sedih
Mata itu, mata yang sama di senja terakhirmu bersama ketidaktahuan kami. Kau berfoto dengan yang lain, manis sekali senyummu
Berani-beraninya aku bergumam, "Mengapa?"
Betapa bodohnya!
Orang lain hanya menggeleng, lantas membawamu pergi. Pergi jauh sekali.
Silih berganti kerabatmu berdatangan, membawa sebongkah kepedihan, tanda tanya, dan sisa-sisa memori tentangmu-seperti yang kutulis ini-
Si Perindu, barang kali yang kau rindukan selama ini, adalah pertemuan dengan-Nya
Putri Hujan, barang kali yang kau inginkan mengantarmu ke tempat yang kau rindukan, ialah hujan di kota ini
Penyuka Senja, barang kali yang kau idamkan untuk kau lihat di hari terakhirmu, senja di pantai kita
Ah, Kawan. Laut, hujan, dan angin akan selalu mengingatkanku akan rindu untukmu, rindu yang jauh sekali.
Doa untukmu, Kawan. Al-Fatihah.
Sebulan sebelum malam pengukuhan, 24 April 2015
Menyurutkan riuh kami menjajakan puding cincau-baru kali ini bukan coklat-
Tawa melebur di bawah mantel ditimpali ocehan kecil tentang langit gelap dan hujan yang makin menderas
"Ah, tunggu saja barang berapa menit. Pasti akan reda"
Lantas berlarianlah kami melawan dingin dan kembali menertawakan hujan
Kukatakan malam itu, laut, hujan, dan angin mengingatkan tentang rindu yang jauh. Jauh sekali
Rupanya malam itu, kau pulang duluan
Diam-diam menyelinap ke dalam hujan
Bahkan kaupun mungkin lupa-atau sengaja- tidak pamit
Dan malam itu, tawa benar-benar melebur ke dalam pekikan tak percaya
Ah, Kawan, tangis kami mengguncang kesadaran baru sekalipun masih bersisa ketidakpercayaan
Kutatap matamu sebelum kain tipis menutupnya dengan tega
Mata itu, mata yang sama di hari pertama aku berkenalan denganmu, hari itu kita sama-sama memakai almamater orange. Setahun lebih empat bulan lalu
Mata itu, mata yang sama di momen-momen terberat perjuangan kita bersama 78 orang lainnya. Kau selalu nampak ceria, kadangkala kritis, dan tak pernah mengurai sedih
Mata itu, mata yang sama di senja terakhirmu bersama ketidaktahuan kami. Kau berfoto dengan yang lain, manis sekali senyummu
Berani-beraninya aku bergumam, "Mengapa?"
Betapa bodohnya!
Orang lain hanya menggeleng, lantas membawamu pergi. Pergi jauh sekali.
Silih berganti kerabatmu berdatangan, membawa sebongkah kepedihan, tanda tanya, dan sisa-sisa memori tentangmu-seperti yang kutulis ini-
Si Perindu, barang kali yang kau rindukan selama ini, adalah pertemuan dengan-Nya
Putri Hujan, barang kali yang kau inginkan mengantarmu ke tempat yang kau rindukan, ialah hujan di kota ini
Penyuka Senja, barang kali yang kau idamkan untuk kau lihat di hari terakhirmu, senja di pantai kita
Ah, Kawan. Laut, hujan, dan angin akan selalu mengingatkanku akan rindu untukmu, rindu yang jauh sekali.
Doa untukmu, Kawan. Al-Fatihah.
Sebulan sebelum malam pengukuhan, 24 April 2015
